BAB II SKRIPSI

BAB II

METODE BERCERITA SEBAGAI METODE DAKWAH

  1. A. Pengertian Bercerita, Dakwah dan Al-Qur’an
  2. Pengertian Bercerita

Dalam bahasa Indonesia, “bercerita” adalah kata berimbuhan, yaitu berasal dari kata cerita yang ditambah awalan “ber-“. Cerita sebagai bentuk kata dasar dari kata bercerita mengandung beberapa pengertian, yaitu:

1) tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (Peristiwa, kejadian, dsb); 2) Karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan orang, kejadian, dsb (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun yang hanya rekaan belaka); 3) Lakon yang diwujudkan atau dipertunjukkan dalam gambar hidup (sandiwara, wayang, dsb).[1]

Secara definitif, A. Hanafi memberikan pengertian bercerita sebagai “setiap bentuk tulisan yang bersifat kesusastraan dan indah serta lahir dari seorang penulis dengan maksud untuk menggambarkan suatu keadaan tertentu mengenai sejarah, kesusastraan, akhlak atau susunan masyarakat dan sebagainya”.[2]

Definisi ini terlihat terlalu khusus, karena hanya menggambarkan bercerita sebagai sebuah karya tulis saja, tidak menyinggung cerita sebagai sebuah lakon yang diwujudkan atau dipertunjukkan dalam gambar hidup sebagaimana disebutkan sebelumnya. Definisi tentang pengertian bercerita yang dibuat oleh Chadijah Nasution mungkin lebih tepat dalam kajian ini, di mana dia mengungkapkan bahwa pengertian bercerita adalah “menyampaikan berita dengan cara terperinci, selangkah demi selangkah, atau dengan kata lain bercerita adalah uraian yang lengkap tentang sesuatu”.[3]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diterangkan secara singkat definisi bercerita, yaitu “menuturkan cerita”.[4] Atau dalam kata lain, bercerita bisa diartikan menuturkan sesuatu kejadian. Cerita bisa berupa “sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, ataupun yang hanya khayalan”.[5]

Dalam Bahasa Indonesia, sebenarnya terdapat banyak sinonim dari kata cerita. Sinonim kata cerita tersebut di antaranya:

  1. Kisah

Kisah  mempunyai  pengertian  yang  tidak  jauh  berbeda  dengan pengertian cerita, yaitu “cerita tentang kejadian (riwayat, dsb) dalam kehidupan seseorang, dsb; kejadian (riwayat, dsb)”.[6] Menurut Chadijah Nasution dalam bukunya Bercerita Sebagai Metode Dakwah menyebutkan “Kata kisah berasal dari قص-تقصص-اقتص yang artinya mengikuti jejak sesuatu, selangkah demi selangkah, atau dari susunan kata قصّ-يقصّ- قصّصا yang berarti menyampaikan berita, menyampaikan sesuatu kepada seseorang”.[7] Pengertian ini juga diterangkan oleh Ahmad Musthafa al-Maraghi sebagai berikut:

Al-Qashash: Mengikuti jejak. Diantaranya adalah firman Allah: Waqalat li ukhtihi qushshihi {Al-Qashash/28: 11) (ikutilah olehmu jejaknya). Kemudian, pemakainannya digunakan masalah pembicaraan. Sebab, orang menceritakan kisah mengikuti jejak makna guna menyampaikannya.[8]

  1. Dongeng

Bentuk sinonim kata lainnya dari kata bercerita ini adalah dongeng. Pengertian dongeng adalah “menceritakan secara lisan, terutama kejadian zaman dahulu kala, sehingga ciri yang melekat pada dongeng selalu dimulai dengan keterangan waktu yang telah berlalu, seperti: Pada zaman dahulu atau pada suatu hari”.[9]

Ada sedikit perbedaan antara dongeng dengan cerita, yaitu: “Apabila dongeng merupakan cerita khayalan atau karangan, sedangkan cerita, bisa khayalan atau karangan, bisa juga sesuatu yang terjadi atau kenyataan”.[10]

Lebih jauh Chadijah Nasution mengungkapkan, ada beberapa kata yang memiliki persamaan arti dengan kisah atau cerita, yaitu :

-                                                             Dongeng, yaitu cerita yang hanya khayalan saja.

-                                                             Hikayat, yaitu cerita tentang raja-raja, keluarga raja atau para bangsawan.

-                                                             Wira Carita, yaitu cerita tentang kepahlawanan dari seorang ksatria yang gagah berani.

-                                                             Riwayat, yaitu cerita tentang pengalaman hidup seseorang dari sejak kecil, hingga dewasa atau sampai meninggal.

-                                                             Sejarah, yaitu cerita tentang raja-raja, kerajaan dan orang-orang besar yang pernah ada.

-                                                             Roman, yaitu cerita tentang kehidupan manusia.

-                                                             Novel, yaitu cerita yang menguraikan sesuatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan seseorang.

-                                                             Drama, yaitu cerita yang dipentaskan di atas panggung.

-                                                             Cerita Berbingkai, yaitu cerita yang di dalamnya mengandung cerita lagi.[11]

Jadi, secara umum dapat disimpulkan pengertian bercerita, yaitu menyampaikan tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal, peristiwa, kejadian, perbuatan dan sebagainya, baik melalui media lisan, tulisan, gambar ataupun berbentuk lakon yang dipentaskan atau dipertunjukkan.

2.                             Pengertian Dakwah

Kajian terhadap pengertian dakwah ini perlu untuk dikaji, karena kebanyakan orang cenderung salah dalam mendefinisikan dan memandang ruang lingkup dakwah ini.

A. H. Hasanuddin dalam salah satu bukunya Agama Islam dan Bekal Langkah Berdakwah menyebutkan bahwa “Berdakwah bagi kebanyakan orang cenderung disinonimkan dengan berpidato, sehingga juru dakwah (Muballigh-muballighat/da’i –da’iyat) diartikan sebagai orang yang ahli dalam berpidato dengan karakteristik sebagai orator atau agitator”.[12] Karena itulah, di samping dakwah merupakan bagian tak terpisahkan dalam kajian ini, definisi mengenai dakwah ini juga merupakan hal yang sangat urgen untuk dikaji terlebih dahulu dalam karya ilmiah ini, guna terciptanya kesatuan pemahaman terhadap pengertian dari dakwah itu secara umum.

Kata “Dakwah” ditinjau dari segi etimologi atau asal kata (bahasa)  maka berasal dari bahasa Arab yaitu:” دعا-يدعو-دعوة yang berarti panggilan, ajakan atau seruan”.[13]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan bahwa pengertian dakwah adalah “1. Penyiaran; Propaganda; 2. Penyiaran agama dan pengembangannya di kalangan masyarakat; seruan untuk memeluk, mempelajari dan mengamalkan ajaran agama”.[14]

Jumu’ah Amin dalam bukunya Fiqh Dakwah menyebutkan di antara makna dakwah secara bahasa adalah:

  1. An-Nida (memanggil).
  2. Menyeru.
  3. Ad-dakwah ila gadhiyah, (menegaskannya atau membelanya).
  4. Suatu usaha berupa perkataan atau perbuatan untuk menarik manusia ke suatu aliran atau agama  tertentu.
  5. Memohon dan meminta”.[15]

Dakwah menurut istilah mengandung beberapa pengertian sehingga para ahli pun berbeda pendapat dalam mendefinisikannya. Toha Yahya Omar mendefinisikan dakwah adalah “mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagian mereka di dunia dan  akhirat”.[16]

Secara umum Drs Anwar Masyári, dalam bukunya Studi Tentang Ilmu Dakwah menyatakan bahwa dakwah adalah “suatu ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara tuntunan dan bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia supaya menganut, menyetujui dan melaksanakan suatu ideologi, pendapat-pendapat, pekerjaan-pekerjaan tertentu dan lain-lain”.[17]

Dalam kaitan ini spesifikasi pengertian dakwah adalah “Setiap usaha atau aktivitas, dengan lisan atau tulisan dan lainnya, yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia untuk beriman dan mentaati Allah swt, sesuai dengan garis-garis hukum serta akhlak Islamiyah”.[18]

Dalam Encyclopeadia of Islam disebutkan. “In the religious sense, the da’wa is the invitation, addressed to men by God and the prophets, to believe in true religion, Islam”.[19]

Dengan demikian dapat diartikan bahwa dakwah adalah suatu usaha dengan segala ilmu pengetahuan untuk mengajak, menyeru, memanggil, mempengaruhi dan menjadikan orang lain turut serta dalam misi yang dilakukan tanpa adanya unsur paksaan yang sesuai dengan petunjuk Al Qur’an dan Al Hadits.

  1. Pengertian Al-Qur’an

Pengertian Al-Qur’an secara etimonogis, di terangkan dalam        Al-Qur’an dan Tafsirnya milik Universitas Islam Indonesia (UII) yang diterbitkan oleh PT. Dana Bhakti Wakaf sebagai berikut:

Al-Qur’an menurut bahasa ialah bacaan atau yang dibaca.             Al-Qur’an adalah “masdar” yang diartikan dengan isim isim maf’ul, yaitu maqru’ (yang dibaca). Akan tetapi hal ini tidak disepakati bersama sepenuhnya, sebab ada yang menyatakan Al-Qur’an bukanlah terambil dari kata-kata apapun, melainkan ia kata khusus untuk “kalamullah” yang turun kepada Nabi-Nya Muhammad saw., sebagaimana halnya nama yang diberikan-Nya untuk kitab suci “Taurat dan Injil”.[20]

Pengertian Al-Qur’an secara etimilogis ini secara lebih jelas diungkapkan oleh Prof. Drs. H. Masjfuk Zuhdi dalam bukunya Pengantar Ulumul Qur’an, bahwa terdapat beberapa asal kata Al-Qur’an, yaitu:

  1. Al-syafi’i salah seorang imam madzhab yang terkenal (150-204 H) berpendapat, bahwa kata Al-Qur’an ditulis dan dibaca tanpa hamzah (Al-Quran, bukan Al-Qur’an) dan tidak diambil dari kata lain.         Ia adalah nama yang khusus dipakai untuk kitab suci yang diberikan kepada Nabi Muhammad, sebagaimana nama Injil dan Taurat yang dipakai khusus untuk kitab-kitab Tuhan yang diberikan masing-masing kepada Nabi Isa dan Musa.
  2. Al-Fara’ seorang ahli Bahasa yang terkenal, pengarang kitab Ma’anil Qur’an (wafat tahun 207 H) berpendapat, bahwa lafazh   Al-Qur’an tidak pakai hamzah dan diambil dari kata qarain jama’ qarinah yang artinya indikator (petunjuk). Hal ini disebabkan karena sebagian ayat-ayat Al-Qur’an  itu serupa satu sama lain, maka seolah-olah sebagian ayat-ayatnya merupakan indikator (petunjuk) dari apa yang dimaksud oleh ayat lain yang serupa itu.
  3. Al-Asy’ari seorang ahli Ilmu Kalam, pemuka aliran Sunny (wafat 324 H) berpendapat, bahwa lafazh Al-Qur’an tidak pakai hamzah dan diambil dari kataقرن    yang artinya menggabungkan. Hal ini disebabkan karena surah-surah dan ayat-ayat Al-Qur’an itu dihimpun dan digabungkan dalam satu mushaf.
  4. Al-Zajjaj pengarang kitab Ma’anil Qur’an (wafat 311 H) berpendapat, bahwa lafazh Al-Qur’an itu berhamzah, berwazan Fu’lan, dan diambil dari kata القرء yang artinya penghimpunan. Hal ini disebabkan karena Al-Qur’an merupakan kitab suci yang menghimpun intisari ajaran-ajaran dari kitab-kitab suci sebelumnya (perhatikan Surat Al-Bayyinah: 2-3).
  5. Al-Lihyani, seorang ahli Bahasa (wafat 215 H) berpendapat, bahwa bahwa lafazh Al-Qur’an itu berhamzah, bentuknya mashdar dan diambil dari kata القرأ  yang artinya membaca. Hanya saja lafazh  Al-Qur’an ini menurut Al-Lihyani adalah mashdar bima’na ismil maf’ul. Jadi Al-Qur’an artinya maqru’ (dibaca).
  6. Dr. Subhi al-Salih pengarang kitab Mabahits fi Ulumil Qur’an mengemukakan, bahwa pendapat yang paling kuat adalah lafazh   Al-Qur’an itu masdar dan sinonim/muradif dengan lafazh qira’ah, sebagaimana tersebut dalam surah Al-Qiyamah: 17-18.

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَه وَقُرْءَانَه.فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَه

Artinya: Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya dan membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.[21]

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa pengertian Al-Qur’an adalah “Kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan perantara malaikat Jibril untuk dibaca, dipahami dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia”.[22] Di kalangan Ulama Ushul, Al-Qur’an merupakan “nama kitab suci Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan perantara Malaikat Jibril sebagai sumber hukum pertama dalam Islam”.[23]

“Al-Qur’an juga biasa didefinisikan dengan Kalam Allah swt.  yang merupakan mu’jizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad saw. dan membacanya adalah Ibadah”.[24] Pengertian senada dengan definisi tersebut juga diungkapkan oleh Drs. Zainul Abidin S. dalam bukunya Seluk Beluk Al-Qur’an bahwa Al-Qur’an adalah “Kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dan membacanya adalah ibadah”.[25]

Afifa A Tabbarah dalam bukunya The spirit of Islam: Doctrine and Teaching juga mengungkapkan sebagai berikut: “The Koran is Revelation which God sent down to Apostle Mohammed the last prophets, and has been passed forth to us, both in form and content in an uninterrupted transmission; it is the last holy book to be revealed to mankind”.[26]

Sehubungan dengan semua definisi tersebut, Dr. Subhi al-Salih merumuskan definisi Al-Qur’an yang dipandang sebagai definisi yang dapat diterima oleh para Ulama, terutama ahli Bahasa, ahli Fiqh dan ahli Ushul Fiqh[27]. Dan definisi inilah juga yang penulis jadikan sebagai acuan terhadap pengertian Al-Qur’an dalam karya tulis ini. Definisi yang disampaikan oleh Dr. Subhi Al-Salih tersebut adalah:

اَلْقُرْآنُ هُوَ الْكِتَابُ الْمُعْجِزُالْمُنَزَّلُ عَلَى النَّبِيِّ ص.م. اَلْمَكْتُوْبُ فِي الْمَصَاحِفِ الْمَنْقُوْلُ عَلَيْهِ بِالتَّوَاتُرِ الْمُتَعَبَّدُ بِتِلاوَتِهِ.

Artinya: Al-Qur’an adalah firman Allah yang bersifat/berfungsi mukjizat (sebagai bukti kebenaran atas kenabian Muhammad) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang tertulis di dalam mushaf-mushaf, yang dinukil/ diriwayatkan dengan jalan mutawatir, dan yang dipandang beribadah membacanya.[28]

B.               Metode Dakwah dan Klasifikasinya

Karya tulis yang membahas metode penyampaian cerita dalam hubungan dengan metode dakwah dan menitik beratkan kajian pada eksistensi metode bercerita dalam kelompok metode dakwah. Jadi, dalam kontek ini penulis memandang perlu untuk sedikit menguraikan tentang metode dakwah.

  1. Pengertian Metode Dakwah.

Dalam mengkaji lebih dalam pengertian metode dakwah, perlu diketahui terlebih dahulu pengertian dari kata metode secara etimologis. Menurut Dr. Wardi Bachtiar, “kata metode berasal dari bahasa Inggris, yaitu Methode yang artinya “cara” yaitu suatu cara untuk menyampaikan cita-cita”.[29]

Definisi metode secara etimologis yang diungkapkan oleh           Dr. Wardi Bachtiar tersebut berbeda dengan definisi yang diungkapkan oleh Drs. H. Hasanuddin, SH. Dia mengungkapkan bahwa “metode berasal dari bahasa Jerman, yaitu Methodica artinya ajaran tentang metode. Dalam bahasa Yunani, metode berasal dari kata Methodos artinya jalan. Yang dalam bahasa Arab disebut thariq”.[30] Metode berasal dari bahasa Latin “Meta” yang berarti melalui dan “Hodos” yang berarti “jalan” atau “ke” atau “cara ke”,[31] demikian definisi etimologis yang diungkapkan oleh Nur Uhbiyati.

Secara terminologis, metode mengandung pengertian “cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai sesuatu maksud (dalam ilmu pengetahuan dsb)”.[32] Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia ditambahkan bahwa metode juga mengandung pengertian “cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan”.[33]

Dr. Husaini Usman, M.Pd. dan Purnomo Setiady Akbar, M.Pd. mendefinisikan, “metode adalah cara untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Sedangkan metodologi ialah suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode.”[34]

Dari pengertian-pengertian tersebut dapat diambil pemahaman bahwa Metode Dakwah adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan dakwah Islamiah guna mencapai tujuan dakwah yang  telah ditentukan, atau bisa juga berarti cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai tujuan dakwah. Secara definitif, Dr. Wardi Bachtiar memberikan pengertian metode dakwah sebagai “cara-cara yang dipergunakan oleh seorang da’i untuk menyampaikan materi dakwah, yaitu Al-Islam atau serentetan kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu”.[35] Drs. H. Toto Tasmara dalam bukunya Komunikasi Dakwah mendefinisikan Metode Dakwah sebagai “cara-cara yang dilakukan oleh seorang muballig (Komunikator) untuk mencapai tujuan tertentu atas dasar hikmah dan kasih sayang”.[36]

Dari semua pendapat tersebut, dapat ditarik satu kesimpulan umum bahwa metode dakwah merupakan cara dalam berdakwah. Dalam kata lain, metode dakwah secara definitif ,mengandung pengertian segala cara yang teratur atau sistematis dan terencana yang bisa digunakan oleh seorang da’i untuk menyampaikan materi dakwah guna mencapai tujuan dakwah

  1. Klasifikasi Metode Dakwah.

Metode Dakwah dapat diklasifikasikan kepada beberapa kelompok. Salah satunya sebagaimana yang ungkapkan oleh Drs. H. Hasanuddin, SH berikut ini:

Metode dalam melaksanakan dakwah tercantum dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ  وَ جَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ اَحْسَنُقليإِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِه  وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ (النحل:125

Artinya: Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat di jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa metode dakwah itu ada tiga cara, yaitu:

-                                                          Al-Hikmah;

-                                                          Al-Mauizhatil hasanah;

-                                                          Al-Mujadalah allati hiya ahsan”.[37]

Klasifikasi metode dakwah yang disampaikan oleh Drs. H. Hasanuddin, SH. tersebut, diterangkan oleh Syekh Muhammad Abduh bahwa “secara garis besar, umat yang dihadapi oleh seorang pembawa dakwah dapat dibagi atas tiga golongan, yang masing-masing dengan cara yang berbeda-beda pula.[38] Klasifikasi penggunaan metode dakwah berdasarkan objek dakwah yang dihadapi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Ada golongan cerdik-cendikiawan yang cinta kebenaran dan dapat berpikir secara kritis, cepat dalam menangkap arti persoalan. Mereka ini harus dipanggil dengan hikmat, yakni dengan alasan, dalil-dalil dan hujjah yang dapat diterima oleh kekuatan akal mereka.
  2. Ada golongan awam, orang kebanyakan yang belum dapat berpikir secara kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian-pengertian yang tinggi. Mereka dipanggil dengan “mau’izhatil hasanah” dengan anjuran dan didikan yang baik dengan jalan yang mudah dipahami.
  3. Ada golongan yang tingkat kecerdasannya di antara dua golongan tersebut di atas, belum dapat dicapai dengan hikmat, akan tetapi tidak akan sesuai pula bila dilayani seperti golongan awam, mereka suka membahas sesuatu tetapi hanya dalam    batas-batas tertentu, tidak sanggup mendalam benar.

Maka demikian itu dipanggil dengan “mujadalah billati hiya ahsan” yakni dengan bertukar pikiran, guna mendorong supaya berpikir secara sehat, dan satu sama lainnya dengan cara yang lebih baik.[39]

Mengenai hal ini, Syekh Ahmad Mustafa al-Maraghi menerangkan tentang ketiga macam metode dakwah ini:

الحكمة:المقامة المحكمة المعصوبة بالدليل الموضح للحق المزيل للشبهة

والموعظة الحسنة : الدلائل الظنية المقنعة للعامة

والجدل:الحوار والمناظرة لاقناع المعاند

Artinya: Hikmah yaitu perkataan yang jelas/tegas, disertai dalil yang dapat memperjelas kebenaran dan menghilangkan keragu-raguan. Mau’izhatil hasanah ialah dalil-dalil yang masih bersifat danni yang dapat memberikan kepuasan bagi orang-orang awam. Jadal atau Mujadalah yaitu percakapan dan bertukar pikiran sehingga orang tadinya menentang menjadi puasa dan menerima dengan baik.[40]

Beberapa pendapat di atas hanya mengupas seputar tiga jenis metode yang dipetik dari surah An-Nahl ayat 125 saja. Dr. Wardi Bachtiar dalam bukunya Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah mengemukakan:

Sumber metode dakwah yang terdapat di dalam Al-Qur’an menunjukkan ragam yang banyak, seperti hikmah, nasihat yang benar dan bermujadalah atau diskusi atau berbantah dengan cara yang lebih baik (QS. An-Nahl: 125), dengan kekuatan anggota tubuh (tangan), dengan lisan (lidah) dan bila tidak mampu, maka dengan hati         (HR. Muslim). Dari sumber metode itu tumbuh metode-metode yang merupakan operasionalisasinya, yaitu dakwah dengan lisan, tulisan dan bil-hal.[41]

Di samping metode-metode tersebut di atas, ada beberapa klasifikasi metode dakwah lainnya, yaitu sebagai berikut:

  1. a.           Metode Dakwah dari segi cara, ada dua macam:

-                   Cara tradisional, termasuk di dalamnya sistem ceramah umum. Dalam cara ini da’i aktif berbicara, sedangkan komunikan pasif. Komunikasi hanya berlangsung satu arah (one way comunication).

-                   Cara Modern, termasuk di dalamnya diskusi, seminar dan sejenisnya di mana terjadi komunikasi dua arah (Two ways comunication).

  1. Metode Dakwah dari jumlah audien, ada dua macam:

-                                                                     Dakwah perorangan, yaitu dakwah yang dilakukan terhadap orang secara langsung;

-                                                                     Dakwah kelompok, yaitu dakwah yang dilakukan terhadap kelompok tertentu yang sudah ditentukan sebelumnya.[42]

Jamaluddin Kafie mengemukakan beberapa metode yang dikelompokkannya sebagai metode klasik yang masih up to date atau metode yang biasa dipergunakan oleh Rasulullah saw. dan sahabat namun masih sesuai dipergunakan untuk masa sekarang. Disebutkannya metode klasik yang masih tetap up to date itu adalah sebagai berikut:

  1. Metode Sembunyi-sembunyi, pendekatan kepada sanak keluarga terdekat, terang-terangan atau deklaratif.
  2. Metode bil lisan, bil qalam, bil hal dan bil ‘amal
  3. Metode bil hikmah, mau izhatil hasanah, mujadalah billati hiya ahsan.
  4. Metode:

-                                                                     Tabsyier wat Tandzier

-                                                                     Targhieb wat Tarhieb

-                                                                     Amar Ma’ruf Nahi Munkar

-                                                                     Ta’awanu ‘alal birri wat taqwa wa la ta’awanu alal itsmi wal ‘udwan

-                                                                     Dalla ‘ala khairin

-                                                                     Tawashau bil haq wash shobr

-                                                                     Tadzkirah

-                                                                     Taghyier

-                                                                     Di’ayah

-                                                                     Fastabiqul khairat, ilal maghfirah wal jannah.

Di dalam metode-metode tersebut telah tercakup pengertian metode langsung dan tidak langsung, kemudian metode sistem dan teknis dakwah tersebut masih bisa masih bisa dikembangkan lagi menjadi beberapa cara yang sedang berkembang di dalam masyarakat dengan bermacam-macam istilah baik yang tradisional, formal maupun ilmiah.[43]

Berdasarkan literatur yang penulis peroleh selama masa penelitian, di samping metode-metode yang dikemukakan di atas, masih ada beberapa metode lainnya, yaitu di antaranya metode yang diklasifikasikan berdasarkan cara penyampaiannya, yaitu :

  1. Cara langsung dan tidak langsung. Cara langsung yaitu dakwah yang dilakukan dengan cara tatap muka antara komunikan dan komunikatornya. Cara tidak langsung yaitu dakwah dilakukan tanpa tatap muka antata da’i dan audiennya;
  2. Cara penyampaian isi secara serentak dan dan bertahap. Cara serentak dilakukan untuk pokok-pokok bahasan yang praktis dan tidak terlalu banyak kaitannya dengan masalah lainnya. cara bertahap dilakukan bertahap pokok-pokok bahasan yang banyak kaitannya dengan masalah lain;
  3. Cara penyampaian persiapan materi dapat dilakukan dengan tiga cara:

-                     Teks book, yaitu dengan membaca materi secara keseluruhan;

-                     Tanpa teks book, yaitu materi dihapal seluruhnya dan tanpa membaca;

-                     Dengan catatan kecil secara garis besar, disiapkan pokok-pokok materinya saja.[44]

Asmuni Syukir, dalam bukunya Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam menerangkan secara panjang lebar tentang jenis-jenis metode dakwah, namun secara keseluruhan dapat diidentifikasi bahwa jenis-jenis metode dalam dakwah meliputi metode ceramah, tanya jawab, percakapan antar pribadi (bebas), demonstrasi, pendidikan agama, mengunjungi rumah (silaturahmi) dan metode dakwah Rasulullah yang meliputi metode dakwah di bawah tanah, terang-terangan, politik pemerintahan, surat menyurat dan peperangan.[45]

  1. Penggunaan Metode Dakwah

Dalam menentukan metode dakwah yang akan dipergunakan dalam sebuah aktivitas dakwah, sebelumnya harus diingat beberapa prinsip dakwah. Drs. H. Muhammad Masyhur Amin mengemukakan beberapa prinsip tersebut sebagai berikut:

  1. Cara berdakwah itu bermacam-macam sesuai dengan keadaan penerimanya.
  2. Untuk menentukan cara berdakwah harus memperhatikan keadaan di mana dakwah itu diadakan, baik tempat, waktu, materi, tujuan dan penerimanya.
  3. Melaksanakan dakwah itu tidaklah hanya dengan satu cara saja, tetapi bisa dengan cara campuran atau cara ganda bergantung dengan keadaan di mana dakwah itu diadakan.[46]

Drs. H. Toto Tasmara yang mengistilahkan metode dakwah dengan Approach dakwah, juga menerangkan tentang prinsip metode dakwah ini dalam bukunya Komunikasi Dakwah sebagai berikut:

  1. Approach dakwah senantiasa memperhatikan dan menempatkan penghargaan yang tinggi atas manusia dengan menghindari prinsip-prinsip yang akan membawa kepada sikap pemaksaan kehendak.
  2. Peranan hikmah dan kasih sayang adalah merupakan yang paling dominan dalam proses penyampaian idea-idea dalam komunikasi dakwah tersebut.
  3. Approach dakwah yang bertumpu pada hukum oriented menghargai keputusan final yang diambil oleh pihak komunikan, dan karenanya dakwah merupakan penyampaian  atau penerimaan idea-idea secara demokratis.
  4. Approach dakwah yang didasarkan atas hikmah dan kasih sayang itu dapat memakai segala alat yang dibenarkan menurut hukum sepanjang hal tersebut tetap menghargai hak-hak manusia itu sendiri.[47]

“Pokok persoalan bagi seorang pembawa dakwah harus bisa menentukan cara yang tepat dan efektif dalam menghadapi suatu golongan tertentu dalam suatu keadaan dan suasana tertentu”[48] Hal senada juga dikemukakan oleh Dr. Wardi Bachtiar dalam bukunya Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah sebagai berikut:

Pada setiap metode dakwah tersebut memungkinkan terdapat masalah, misalnya: apakah metode tersebut cocok untuk menyampaikan sesuatu materi, apakah cocok dipergunakan oleh subjek, apakah cocok untuk objek tertentu, bagaimana hasil yang ingin dicapai dengan menggunakan metode tersebut?[49]

Drs. Anwar Masy’ari juga mengemukakan bahwa “seorang da’i harus bisa memilih metode mana yang cocok dan sesuai agar dakwah bisa sukses, dan da’i harus pandai-pandai memilih serta menggunakan metode penyampaian”.[50] Sebagaimana sabda Rasulullah saw. :

مَنْ اَمَرَ بِمَعْرُوْفٍ فَلْيَكُنْ اَمَرَهُ بِمَعْرُوْفٍ

Artinya: “Barangsiapa yang menganjurkan kepada yang baik, maka hendaklah anjurannya itu sendiri dilakukan dengan cara yang baik”.[51]

Jadi intinya penggunaan metode dalam berdakwah harus bijaksana, dalam pengertian lain, “metode yang dipakai harus mempertimbangkan waktu dan kondisi, karena bila tidak bisa berbuat demikian, maka hasil negatiflah yang akan muncul”.[52]

C.                    Metode Bercerita dan Pengaruhnya

Bercerita sebagai sebuah metode untuk penyampaian maksud atau tujuan, terlepas dari posisinya sebagai metode dakwah, mempunyai pengaruh yang sangat besar secara psikis terhadap kejiwaan seseorang. Muhammad Fadilil al-Jamali mengungkapkan:

Cerita-cerita akan dapat membekas pada diri seseorang apabila   benar-benar dapat menyentuh hati nuraninya yang peka. Dalam cerita terdapat pendidikan sasaran moral yang kadang-kadang bisa menyentuh hati seseorang yang paling dalam sehingga menggugah, merangsang dan mendorong dia untuk mengerjakan kebajikan dan menyingkirkan   bisikan-bisikan syetan yang terlaknat. Cerita kadang-kadang juga dapat membuat pembaca atau pendengarnya cenderung untuk melakukan kebaikan dan menjauhkan diri dari perbuatan yang jelek.[53]

“Untuk dapat menyentuh hati nurani pendengar yang peka, yang harus diperhatikan adalah bagaimana teknik bercerita yang bagus itu, sehingga pendengar akan mudah memahami dan mencerna cerita yang disampaikan”.[54] Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seseorang agar cerita yang disampaikannya bisa dicerna dan dipahami dengan baik di antaranya:

  1. Vokal; Vokal ini adalah variasi suara dalam menyampaiakn cerita. Ia perlu diperhatikan karena merupakan salah satu hal yang penting dalam komunikasi untuk menyampaikan informasi visi dan misi yang ada dalam cerita.
  2. Tubuh; Ia merupakan alat bantu ekspresi. Karena tidah hanya melalui suara atau vokal saja dalam menyampaikan informasi, tetapi tubuh juga sebagai alat penegas yang ekspresif.
  3. Bentuk Penghayatan; Segala sesuatu memang membutuhkan penghayatan, karena ia memberikan roh tersendiri dalam bercerita.[55]

Dalam hal pengaruh psikologis, ternyata bercerita berpengaruh positif terhadap integensia anak. Dalam sebuah penelitian diperoleh satu kesimpulan “bahwa anak yang kurang didongengi atau diberikan cerita, intelegensia mereka ternyata lebih rendah bila dibandingkan dengan mereka yang lebih banyak didongengi oleh orang tua mereka atau guru mereka (atau entah oleh siapa saja)”.[56]

Penelitian itu kemudian juga menemukan setelah sering didongengi, anak-anak yang semula intelegensianya kurang, belakangan menjadi meningkat. Berdasarkan hasil penelitian juga di Selandia Baru, ibu-ibu yang berhasil mendidik anak-anaknya adalah ibu-ibu yang membiasakan anak-anaknya sejak kecil didongengi dengan gaya cerita yang sangat berkesan. Penelitian ini menunjukkan adanya intervensi positif dari mendongeng tersebut.[57]

Cerita dapat menyentuh emosi seseorang dan bahkan “anak dalam masa perkembangan jiwanya ditemukan adanya masa-masa menyenangi cerita atau dongengan, ada masa heroisme dan ada masa identifikasi personal dan tingkah laku untuk mencari jadi diri”.[58] Pada masa anak menyenangi dongengan itulah waktu yang paling efektif untuk menggunakan metode ini dalam membentuk kepribadian pada diri seorang anak. Dari sebuah penelitian lain ditemukan bahwa “kebiasaan bercerita kepada pasien membuat mereka lebih enak tidur”,[59]

Ramayulis dalam bukunya Metodologi Pengajaran Agama Islam, mengungkapkan bahwa cerita-cerita itu mempunyai beberapa keistemewaan, antara lain:

  1. Membangkitkan perasaan seperti khauf, ridha dan cinta.
  2. Mengarahkan seluruh perasaan sehingga bertumpuk pada satu puncak, yaitu kesimpulan kisah.
  3. Melibatkan pembaca atau pendengar ke dalam kisah itu sehingga ia terlibat secara emosional.[60]

Abdurrahman an-Nahlawi mengatakan bahwa di antara dampak yang dihasilkan oleh kisah adalah:

  1. Dapat mengaktifkan dan membangkitkan kesadaran pembaca tanpa cerminan kesantaian dan keterlambatan sehingga dengan kisah setiap pembaca akan senantiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi kisah tersebut sehingga pembaca terpengaruh oleh tokoh atau topik kisah yang disampaikan.
  2. Mempengaruhi emosi. Hal ini bisa berupa perasaan takut, rasa diawasi, rela, senang, sungkan atau benci dan berbagai gejala-gejala psikis lainnya, yang kemudian mengarahkan emosi tersebut ke satu maksud yang ingin disampaikan yang menyatu pada satu kesimpulan yang menjadi akhir cerita.
  3. Mengikutsertakan unsur psikis yang membawa pembaca larut dalam setting emosional cerita sehingga pembaca, dengan emosinya hidup bersama tokoh cerita.[61]

Dari uraian di atas, bisa disimpulkan bahwa metode penyampaian bercerita mempunyai kekuatan psikologis yang sangat besar dalam mempengaruhi kejiwaan seseorang, sehingga orang yang mendengarkan cerita akan bisa larut dalam cerita yang disimaknya yang kemudian dapat membangkitkan emosi dalam diri orang tersebut. Di samping itu, pengaruh cerita tidak hanya secara emosional, tetapi lebih dari itu, kekuatan pengaruhnya mampu meningkatkan tingkat intelegensia (Inteligensia Quitent/IQ) seseorang.

Efektivitas metode ini jika dikaitkan dengan tujuan usaha dakwah, yang pada intinya merupakan upaya mempengaruhi orang lain untuk mengikuti jalan Islam, maka tidak bisa dipungkiri bahwa metode ini juga cukup efektif jika diklasifikasikan ke dalam kelompok metode dakwah.


[1] Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Op.Cit. h.  186.

[2] A. Hanafi, Segi-segi Kesusastraan Pada Kisah-kisah Al-Qur’an, (Jakarta: Pustaka      Al-Husna, 1984), h. 14.

[3] Chadijah Nasution, Op.Cit., h. 10.

[4] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op.Cit., h. 187.

[5] Aziz Mushoffa dan Imam Musbikin, Op.Cit., h. 5.

[6] Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op.Cit., h. 505.

[7] Chadijah Nasution, Op.Cit., h. 6.

[8] Ahmad Musthafa al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi, (Semarang: CV. Toha Putra, 1993), Jilid 3, h. 311.

[9] Aziz Mushoffa dan Imam Muabikin, Op. Cit. h. 5.

[10] Ibid.

[11] Chadijah Nasutoin, Op.Cit., h. 10.

[12] A. H. Hasanuddin, Agama Islam dan Bekal Langkah Berdakwah, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1988), h. 155.

[13] Louis Ma’luf, Kamus al- Munjid, (Bairut: Mathaba’ah al-Kathulikiyah, 1975), h. 271.

[14] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op. Cit. h. 205.

[15] Jumu’ah Amin Abdul Aziz, Fiqh Dakwah, (Surakarta: Intermedia, 2000), Cet. III,       h. 24-25.

[16] Toha Yahya Omar, Ilmu Dakwah, (Jakarta: Widjaya, 1971), h. 1.

[17] Anwar Masyári, Studi Tentang Ilmu Dakwah, (Surabaya: Bina Ilmu, 1981), h. 8.

[18] Nasruddin Latif H.S.M, Teori Dan Praktek Dakwah Islam, (Jakarta: CV Multi Yasa dan CO, t.th), h. 10.

[19] B. Lewis, et al., Encyclopeadia of Islam: Prepared by A Number of Leading Orientalists, “C-G”, (Leiden: E.J. Brill, 1965), h. 168.

[20] Universitas Islam Indonesia, Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1991), h. 1.

[21] Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an. (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1993),           Cet. IV.  h. 3

[22] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op.Cit., h. 28

[23] Chaerul Umam, Ushul Fiqih 1, (Bandung: Pustaka Setia, 1998), h. 33

[24] Departeman Agama RI, Op.Cit., h. 16

[25] Zainul Abiddin, Seluk-Beluk Al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), Cet. I,  h. 1.

[26] Afifa A Tabbarah, The Spirit of Islam:Doctrine and Teaching, (Beirut, Libanon:       Dar El_Ilm Lilmalayir, 1993), h. 439.

[27]Masjfuk Zuhdi. Op.Cit., h. 2.

[28] Ibid., h. 1.

[29] Wardi Bachtiar, Metodologi Ilmu Dakwah, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 59.

[30] Hasanuddin, Hukum Dakwah, Tinjauan Aspek Hukum Dalam Berdakwah di Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1999), Cet. I, h. 35.

[31]Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), Cet. I, Jilid I, h. 136.

[32] Hasanuddin, Op.Cit., h. 35.

[33] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Op.Cit., h. 543.

[34] Husaini Usman dan Purnomo Setiady Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 1998), Cet. II, h. 42.

[35] Wardi Bachtiar, Metodologi Penelitian Ilmu dakwah, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), Cet. I h. 35.

[36] Toto Tasmara, Komunikasi Dakwah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997), h. 43.

[37] Hasanuddin, Op.Cit., h. 36.

[38] Anwar Masy’ari, Studi Tentang Ilmu Dakwah, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1981), Cet. I, h. 77.

[39] Ibid., h. 78.

[40] Ibid., h. 82.

[41] Wardi Bachtiar, Op.Cit., h. 34.

[42] Hasanuddin, Op.Cit., h. 39.

[43] Jamaluddin Kafie, Psikologi Dakwah, (Surabaya: Indah, 1993), h. 39.

[44] Hasanuddin, Op.Cit., h. 40.

[45] Asmuni Syukir,  Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya: Al Ikhlas, 1983),      h. 104-160.

[46] Muhammad Masyhur Amin, Dakwah Islam dan Pesan Moral, (Yogyakarta: Press, 1997), h. 1.

[47] Toto Tasmara, Op.Cit., h. 46

[48] Anwar Masy’ari, Op.Cit., h. 79.

[49] Wardi Bachtiar, Op.Cit., h. 35.

[50] Anwar Masy’ari, Op.Cit., h. 80.

[51] Ibid.

[52] Abdur Rahman Shalih Abdullah, Landasan dan Tujuan Pendidikan Islam Menurut   Al-Qur’an, (Bandung: Diponegoro, 1991), Cet. I, h. 217.

[53] Muhammad Fadilil Al-Jamali, Konsep Pendidikan Qur’ani – Sebuah Kajian Filosofis, (Solo: Ramadhani, 1993), h. 132.

[54] Aziz Mushafa dan Imam Muabikin, Op.Cit. h. 15.

[55] Ibid.

[56] Ibid., h. 5.

[57] Ibid., h. 6.

[58] Abdurrahim Yasin, et. al., Op.Cit., h. 71.

[59] Ibid., h. 4.

[60] Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1997),        h. 120.

[61] Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1998), h. 239-241.

Telah Terbit on 3 Juli 2010 at 11:33  Tinggalkan sebuah Komentar  

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: