BAB I SKRIPSI

BAB I

PENDAHULUAN

Cerita atau kisah sudah diperkenalkan semenjak seseorang masih kecil, dimana ia sudah diperdengarkan cerita, baik berupa dongeng atau fabel oleh orang tuanya sebagai pengantar tidur. Aziz Mushoffa dan Imam Muabikin menyebutkan bahwa:

Dalam sebuah seminar dongeng, 21 mei 2000 di Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Ende Reza, Dosen Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Yogyakarta, menyatakan bahwa dengan dongeng sebagai bahasa kasih Ibu tidak hanya sekedar mengantarkan anak berangkat tidur saja, namun lebih dari itu melalui kontak lahir bathin pada saat mendongeng, hubungan bathin dan hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak akan terbangun secara harmonis dan kokoh.[1]

Pamusuk Eneste dalam bukunya Cerpen Indonesia Mutakhir mengungkapkan, “kegemaran bercerita adalah pusaka nenek moyang segala bangsa”.[2] Secara terminologis cerita merupakan “uraian yang lengkap tentang sesuatu yang dilihat atau didengar oleh seseorang”.[3] Dari pengertian tersebut, selintas bercerita akan mempunyai pengertian yang sangat sempit, yaitu suatu alur kejadian yang diceritakan oleh seseorang kepada orang lain secara lisan. Tetapi sebenarnya, pengertian cerita mempunyai ruang lingkup yang cukup luas.

Penyempitan terhadap ruang lingkup cerita terjadi karena pengertian bercerita tersebut dibatasi pada media lisan atau percakapan saja. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa salah satu pengertian cerita adalah “Lakon yang diwujudkan atau dipertunjukkan dalam gambar hidup (sandiwara, wayang, dsb)”.[4] Dari sumber lain juga disebutkan bahwa salah satu bentuk sinonim kata dengan cerita adalah drama, yaitu “cerita yang dipentaskan di atas panggung”.[5] Kedua definisi tersebut menggambarkan bahwa cerita bukan hanya menggunakan media lisan.

Cerita sebenarnya, jika dilihat dari media yang digunakan, meliputi banyak jenis. Drs. H. Hasanuddin SH., menerangkan bahwa “apabila media dakwah dilihat dari instrumennya, maka dapat dilihat dari empat sifat yaitu bersifat visual, auditif, audio visual dan cetak”.[6]

Cerita yang menggunakan media televisi atau Video Compact Disk (VCD), seperti film atau sinetron yang sekarang sedang marak, merupakan salah satu contoh bentuk penyampaian cerita yang menggunakan media audio visual. Acara drama radio atau program acara cerita lainnya yang bisa disampaikan melalui radio atau kaset merupakan bentuk lain dari cerita yang penyampaiannya menggunakan media audio atau bersifat auditif. Novel, Cerpen, Komik, dan jenis cerita yang biasa didapat dari dari buku-buku dan majalah-majalah atau yang sejenisnya, merupakan jenis cerita yang disampaikan melalui media cetak.

Dari klasifikasi cerita dari jenis media yang dipergunakannya sebagaimana disebutkan di atas, dapat dilihat hal yang cukup signifikan bahwa cerita mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Namun keadaan ini kerap kali tidak disadari oleh sebagian orang karena sempitnya memberikan batasan pengertian dan ruang lingkup cerita.

Dari sisi lain, secara psikologis, cerita mempunyai kekuatan yang cukup besar dalam mempengaruhi kejiwaan seseorang. Dalam keadaan tertentu, pengaruh psikologis yang ditimbulkan dari sebuah cerita akan melahirkan reaksi dari pendengar sebagai ekspresi perasaan jiwanya terhadap cerita yang disimaknya. Pengaruh cerita dari segi kejiwaan tersebut, akan jelas terlihat pada anak-anak, “sebab dalam proses perkembangan jiwanya ditemukan adanya masa-masa menyenangi cerita atau dongengan, ada masa heroisme dan ada masa identifikasi personal dan tingkah laku untuk mencari jati diri”.[7]

Kisah dari Al-Qur’an atau Hadits bisa disampaikan kepada anak-anak dalam masa perkembangannya tersebut, “karena pada dasarnya, kata abdurrahman an-Nahlawi, kisah-kisah Al-Qur’an dan Nabawi membiaskan dampak psikologis dan edukatif yang baik, konstan, dan cenderung mendalam sampai kapanpun”.[8] Tentu saja untuk mencapai tujuan itu, yang harus diperhatikan adalah “bagaimana teknik bercerita yang bagus itu, sehingga anak mudah memahami dan mencerna cerita yang disampaikan”.[9]

Pengaruh psikologis dari sebuah cerita bukan tidak bisa terjadi pada orang dewasa, hanya saja pengaruh yang ditimbulkannya berbeda, Sebab pada orang dewasa reaksi psikologisnya terhadap situasi di sekelilingnya tidak sesignifikan pada anak-anak. Pengaruh psikologis pada orang dewasa berdasarkan psikologi perkembangannya pada umumnya berupa reaksi reflek atau spontan, seperti tertawa, menangis, serta pengaruh kejiwaan lain yang berupa perasaan seperti rasa benci, senang, takut, sedih, kagum atau keadaan kejiwaan lainnya.

Besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh sebuah cerita, melahirkan satu hepotesa bahwa metode bercerita ini akan cukup efektif jika dijadikan sebagai sebuah metode dalam berdakwah. Namun dari beberapa literatur seputar masalah dakwah yang pernah penulis temukan, hanya sebagian kecil yang meletakkan metode bercerita sebagai metode dakwah. Kebanyakan hanya menjadikan cerita sebagai materi dakwah. Bercerita sebagai metode memang pernah penulis temukan, tetapi diklasifikasikan ke dalam kelompok metode pendidikan, bukan sebagai metode dakwah.

Kondisi yang penulis anggap cukup ironis ini, melahirkan beberapa pertanyaan dalam benak penulis, apakah para pakar ilmu dakwah tersebut belum memikirkan sampai ke sana, ataukah memang dalam Al-Qur’an sendiri tidak pernah menyinggung metode bercerita sebagai metode dalam berdakwah? Perhatikan potongan ayat 38 surah Al-An’am berikut:

…مَافَرَّطْنَافِىالْكِتبِ مِنْ شَيْءٍ…(الانعام  : 38).

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab.[10] (QS. Al-An’am: 38).

Kesempurnaan Al-Qur’an yang sering disebut sebagai miniatur alam semesta secara esensial terkandung dalam ayat di atas. Maka akan sangat ironis jika di dalamnya tersembunyi satu cacat hanya karena kealpaan menerangkan masalah Metode Bercerita.

Masalah penggunaan metode penyampaian cerita ini sebenarnya secara jelas telah dilirik oleh Al-Qur’an, salah satunya seperti yang terdapat dalam sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

. . . فاَقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ  . ( الاعراف : 176).

“…Maka ceritakanlah kisah-kisah tersebut agar mereka berfikir”.[11] (QS. Al-A’raf: 176).

Ayat tersebut cukup untuk menjadi argumen sementara bahwa metode bercerita ini mempunyai eksistensi di dalam Al-Qur’an. Di samping itu, “bukankah dengan cara menuturkan kisah-kisah inilah di antara gaya Al-Qur’an dan apa yang pernah Nabi sabdakan untuk menyampaikan pesan dan pelajaran berharga?”[12] namun ironisnya, tidak banyak yang mengklasifikasikan metode ini sebagai salah satu bagian dalam kelompok metode dakwah.

Jika membandingkan kondisi di lapangan yang berbeda dengan latar belakang pemikiran penulis yang telah dikemukakan di atas, maka dalam tulisan ini penulis mencoba menyusun satu konsep baru tentang teori Metode Dakwah dengan mencoba bersandar pada berbagai literatur terutama pada Al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam. Penawaran konsep baru klasifikasi metode dakwah ini didasari pemikiran seperti yang diungkapkan oleh Djarwanto, sebagai berikut:

Teori yang lama yang kurang baik (kurang sempurna) diganti oleh teori baru yang lebih baik (lebih sempurna). teori yang lebih baik adalah teori yang dapat memberikan penjelasan yang lebih logis dan lebih sesuai dengan fakta, lebih mampu menjelaskan fenomena-fenomena, lebih teliti dan lebih tinggi daya ramalnya terhadap berbagai masalah.[13]

Perlu penulis garis bawahi bahwa pembahasan dalam karya tulis ini tidak berorientasi pada telaah esensi cerita atau kisah, tetapi lebih pada kajian metode bercerita atau metode dalam menyampaikan cerita.


[1] Aziz Mushoffa dan Imam Muabikin, Sepasang Burung dan Nabi Sulaiman: Kisah-kisah Teladan Buat Anakku, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2001), Cet. I, h. 41.

[2] Pamusuk Eneste, Cerpen Indonesia Mutakhir-Antalogi Esei dan kritik, (Jakarta:  PT. Gramedia, 1983), h. 3.

[3] Chadijah Nasution, Bercerita Sebagai Metode Dakwah, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 10.

[4]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai pustaka, 1999),  Cet. 10. h. 186.

[5]Chadijah Nasution, Loc.Cit.

[6]Hasanuddin, Hukum Dakwah: Tinjauan Aspek Hukum Dalam Berdakwah di Indonesia, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet. I, h. 43.

[7]Aziz Musthaffa dan Imam Muabikin, Op.Cit., h. 7.

[8]Ibid., h. vii.

[9]Ibid., h. 15.

[10] Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Toha Putra, 1989), h.

[11] Ibid., h.

[12] Aziz Mushoffa – Imam Muabikin, Op. Cit. h. vii.

[13] Djarwanto, Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penelitian Skripsi, (Yogyakarta : Liberty. 1984), h. 11.

 

Kembali ke atas

Telah Terbit on 3 Juli 2010 at 11:22  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: