BAB IV SKRIPSI

BAB IV

PENUTUP

A.              Kesimpulan

  1. Eksistensi metode bercerita dalam klasifikasi metode dakwah hanya 1 berbanding 7, atau dalam persentasi hanya 4,76%. Nilai ini menunjukkan bahwa para pakar ilmu dakwah masih kurang memberikan perhatian terhadap eksistensi metode ini dalam klasifikasi metode dakwah.
  2. Efektivitas metode bercerita sebagai sebuah metode dalam berdakwah antara lain: mudah diterima dan dipahami, tidak memberi batasan pada objek dakwah penerimanya, objek dakwah tidak dipaksa berpikir terlalu keras, malah sebaliknya santai,dapat menarik perhatian, memberi kesan mendalam pada pendengarnya, cerita mampu membentuk sikap seseorang.
  3. Eksistensi cerita dalam Al-Qur’an lebih dari ¼ bagian Al-Qur’an atau tepatnya 25,23% dari seluruh ayat Al-Qur’an yang berjumlah 6324 ayat. Sementara eksistensi metode bercerita dalam Al-Qur’an diterangkan dalam Surah  Al-A’raf/7: 176, Surah Al-Kahfi/18 ayat 83 dan Surah Maryam/19 ayat 16, 41, 51, 54 dan 56.
  4. Efektivitas metode bercerita dalam dakwah secara teoretis terbukti efektif. Kecuali pada cara penyampaiannya, di mana tujuan yang ingin dicapai atau pesan yang ingin disampaikan tidak akan diterima dengan baik oleh objek dakwah, dalam hal ini pendengar cerita. Dalam keadaan ini, tujuan dakwah tidak akan tercapai dengan baik. Untuk mengantisipasi ini ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam penyampaian cerita, yaitu Vokal, ekspresi gerak tubuh dan penghayatan terhadap cerita yang disampaikan.
  5. Tujuan dari penggunaan metode bercerita yang ada dalam Al-Qur’an adalah untuk mencegah dari kekafiran, sebagai penjelas segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman, agar umat berikutnya (dalam hal ini umat Muhammad saw) dapat mengambil pelajaran-pelajaran dari cerita tersebut. Di samping itu cerita dalam Al-Qur’an juga mempunyai tujuan pendidikan pada manusia, secara khusus cerita Al-Qur’an itu juga mempunyai tujuan untuk memberikan dorongan psikologis kepada Nabi Muhammad saw. dalam perjuangannya melawan orang kafir dan sebagai bahan perbandingan antara umat terdahulu dengan umat yang sedang beliau hadapi
  6. Cara Al-Qur’an dalam menyampaikan cerita dapat ditinjau dari dua aspek, yaitu:
  7. Aspek Bahasa Penyampaian

Dari aspek bahasa penyampaian cerita, Al-Qur’an menggunakan bahasa yang indah, sopan, tegas, mendalam dan sempurna. Di samping itu, Al-Qur’an  tidak segan mengisahkan “kelemahan manusiawi”, namun itu digambarkan dengan kalimat indah lagi sopan tanpa mengundang tepuk tangan, atau membangkitkan potensi negatif

  1. Aspek Cara Penyampaian Cerita

Cerita Dalam Al-Qur’an Tidak Selalu Memberikan Idetifikasi Jelas Perseorangan Atau Golongan dan Terjadinya Pengulangan Cerita Dalam Surah Yang Berbeda.

Telah Terbit on 3 Juli 2010 at 11:44  Tinggalkan sebuah Komentar  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: